Online gambling games_Lottery website_Reliable sports betting platform_Live entertainment_William Hill

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Pooch sports open website

Hal ini Introduction to IndonIntroduction to Indonesia Lotteryesia Lotteryyang dialami Introduction to Indonesia LotteryPelaIntroduction to Indonesia Lotteryku penuIntroduction to Indonesia Lotterysukan di halte bus dekat Tokyo. Penyelidik menyebut bahwa pria yang mengakhiri hidupnya setelah serangan adalah petapa ekstrim. Sebab hal tersebut, ratusan ribu hikikomori di Jepang mendapat stigma sebagai seseorang yang rawan melakukan kejahatan.

Penanganan yang cepat dari pemerintah Jepang saat kasus Joker terjadi pada malam Halloween tentu patut diapresiasi. Ditambah dengan sikap warga di sana yang saling tolong menolong mengeluarkan penumpang dari kereta. Belum lagi, dalam situasi yang mencekam sekali pun, mayoritas di sana masih memerhatikan kedisiplinan dan keteraturan untuk keluar.

Peristiwa yang terjadi pada perayaan Halloween itu membawa keresahan bagi banyak pihak. Masih menurut Reuters, Hattori dikatakan membeli pisau yang digunakan dari internet, ia juga membawa sekitar 4 liter cairan pemantik dalam botol plastik ketika menuju ke Tokyo.

Kejahatan bisa ditemukan di negara mana pun, termasuk negara dengan perekonomian maju dan stabil. Dikutip dari World Population Review, Institute for Economics and Peace mengeluarkan laporan negara paling aman di dunia. Laporan tersebut mencakup 163 negara dari seluruh dunia. Jepang menempati posisi 10 besar dalam daftar, yakni pada urutan ke-9. Penentuan wilayah bisa disebut sebagai negara yang aman diantaranya; (1) konflik internasional dan domestik yang sedang berlangsung, (2) keselamatan dan keamanan masyarakat, (3) militerisasi.

Menariknya, polisi di sana jarang menggunakan senjata api dan lebih menekankan pada seni bela diri. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan berlatih kendo, semacam bela diri berkelahi dengan pedang yang terbuat dari bambu, ketimbang bagaimana menggunakan senjata api. Hal inilah yang kemungkinan menjadi faktor penusukan dengan pisau menjadi marak digunakan penjahat.

Enam tahun sebelumnya, Yuta Saito, pria berusia 27 tahun menaiki bus yang penuh sesak di stasiun Toride, Ibaraki, Tokyo dan mulai menikam penumpang. Dia melanjutkan serangan terhadap bus kedua yang menyebabkan 14 orang terluka dalam kejadian.

Ilustrasi situasi kereta di Jepang | Credit: Joan Tran on Unsplash

Pemerintah Jepang juga nggak tinggal diam begitu saja. Mereka mengoperasikan pusat dukungan untuk keluarga hikikomori. Prioritasnya adalah membantu mengeluarkan hikikomori dari kamar dan membuat mereka kembali bekerja meski pada kenyatannya solusi tersebut tak bisa membuat masalah psikologis terselesaikan. Belum lagi, stigma hikikomori yang dianggap aneh justru membuat mereka semakin sulit diterima di masyarakat atau ditawari pekerjaan.

“Sejak sebuah senjata dibawa memasuki negara itu, maka yang berlaku adalah aturan hukum perundang-undangan yang ketat,” tutur Overton, pimpinan Action Violence dan penulis buku Gun Baby Gun. 

Hikikomori didefinisikan sebagai orang dewasa yang bersembunyi di rumah orang tua atau kerabat dan sering kali dikurung dalam satu kamar. Mereka tak bekerja dan jarang bergaul dengan dunia luar. Sebagian juga dinilai  tak bisa mempertahankan hubungan yang baik dengan orang tua secara fisik dan finansial.

Selanjutnya, polisi akan memeriksa kerabat sampai rekan kerja. Mereka mempunyai wewenang menolak izin kepemilikan senjata. Namun, itu pun belum semuanya. Pistol jelas dilarang, hanya senapan angin yang diperbolehkan. Hukum di negara itu juga membatasi jumlah toko senjata. Setidaknya hanya ada 40 toko yang menyediakan, alhasil diperkirakan di setiap prefecture (semacam wilayah setingkat polisi) keberadaannya nggak lebih dari tiga toko.

Trigger warning: Artikel ini mengandung materi tentang kekerasan dan pembunuhan

Penikaman secara tunggal di negara ini kerap dilaporkan dibanding dengan penggunaan senjata api.  Melansir dari BBC, untuk membeli senapan di Jepang, mereka memang harus memiliki kesabaran dan kemauan yang kuat. Pun, mereka harus mengikuti kursus perihal senjata api di dalam kelas sepanjang hari, mengambil ujian tertulis, dan lulus tes menembak dengan nilai minimal 95 persen.

Pria berusia 24 tahun bernama Kyoto Hattori tak lama ditetapkan sebagai tersangka. Dalam video yang beredar, saat menjalankan aksinya, ia berdandan layaknya tokoh Joker dari komik Batman. Tujuannya memang sengaja ‘ingin membunuh banyak orang’ supaya ia dihukum mati, bahkan hal ini sudah direncakanan selama berbulan-bulan.



Lanjut baca dengan login terlebih dahulu.

Jepang sebagai negara aman di dunia | Credit: Jezael Melgoza on Unsplash

Hal ini kemudian menjadi sorotan. Publik bertanya-tanya, mengapa peristiwa seperti ini kerap terjadi di Jepang yang dinilai punya tingkat keamanan yang tinggi? Ternyata salah satu penyebabnya adalah gaya hidup hikikomori. Apa itu? Lalu, kira-kira apakah ada upaya yang dilakukan pemerintah Jepang yang selama ini dinilai gesit menanggapi suatu kasus?

Kepada penyidik, ia mengungkap bahwa dirinya memiliki masalah dengan pekerjaan dan teman-teman. Ia diperkirakan telah mulai merencanakan serangan pada awal Juni. Saat itu, ia berhenti dari pekerjaan di kota barat daya Fukuoka dan mulai pindah ke timur, lalu tinggal beberapa waktu di kota-kota besar sampai mencapai Tokyo pada September 2021. Yang nggak habis pikir, Hattori mengatakan bahwa tujuannya hanya ingin membunuh banyak orang dan membuat dirinya mendapat hukuman mati.

Kasus penikaman yang bikin heboh | Credit: Hipwee

Berdasarkan pelaku kasus penikaman yang kerap kali ditemukan, beberapa di antaranya memiliki riwayat hidup sebagai seorang “hikikomori” atau mereka yang menarik diri dari kehidupan sosial dan tak lagi bertemu dengan banyak orang.

Hal ini bisa negatif jika situasi buruk atau emosi yang dialami hanya dipendam seorang diri. Akhirnya, menimbulkan depresi, skizofrenia, maupun keinginan untuk mengakhiri hidup.

Kejadian seperti ini ternyata bukan kali pertama. Sebelumnya sempat dilaporkan terjadi penikaman 17 siswa dan dua orang dewasa di halte bus dekat Tokyo pada 2019. Pada Juli 2016, seorang pria berusia 26 tahun bernama Satoshi Uematsu memasuki pusat perawatan penyandang disabilitas di Sagamihara, selatan Tokyo. Membawa pisau dan benda tajam untuk menyerang pasien, ia menyebabkan 19 orang tewas dengan rentang usia 18-70 tahun.

Menurut survei pemerintah yang dirilis pada bulan Maret 2019, hampir 1,2 juta orang mengidentifikasi diri sebagai hikikomori dengan rentang usia 15 hingga 64 tahun. Dalam kasus Kawasaki, pejabat kesehatan mental mengatakan kepada wartawan bahwa penyerang, Ryuichi Iwasaki, 51, adalah seorang hikikomori yang tak bekerja untuk jangka waktu yang lama. Dia tinggal bersama bibi dan pamannya.

Harap berlangganan  atau beli akses artikel ini untuk melanjutkan.

Meski demikian, kejahatan nggak bisa hanya digeneralisasi untuk gaya hidup tertentu. Hal ini kembali lagi ke pola pikir masing-masing individu. Seseorang yang disebut hikikomori belum tentu melakukan tindakan kejahatan. Hanya saja hal ini akan buruk dampaknya jika mereka tak sadar telah mengalami gangguan kesehatan mental dan tak segera mendapat pertolongan. Sama saja halnya dengan warga biasa jika mengabaikan faktor tersebut. Oleh sebab itu, diperlukan tindakan pencegahan dari semua pihak untuk menciptakan lingkungan yang aman.

Layanan swasta kemudian bermunculan, menghabiskan biaya ribuan dolar untuk mengedepankan kesehatan mental. Salah satu layanan tersebut adalah ReSTART, sebuah perusahaan di Tokyo yang memindahkan hikikomori dari rumah orang tua mereka ke asrama.

Untuk menjawabnya, yuk langsung simak penjelasan berikut!

Menurut laporan Reuters, seorang pria berusia 70 tahun berada dalam kondisi serius dengan luka tusuk di tubuh karena kejadian ini. Dilaporkan bahwa 16 korban lainnya mendapat perawatan ringan, sebagian besar karena menghirup asap dari kebakaran yang juga terjadi di dalam gerbong.

Belum lama ini publik dihebohkan dengan pemberitaan soal penyerangan di gerbong kereta saat malam perayaan Halloween. Peristiwa yang terjadi di Tokyo, Jepang, pada 31 Oktober 2021 tersebut mengejutkan banyak pihak.