Baccarat card type_Gambling to make money_betvicor

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Pooch sports open website

TProfessional bettingeProfessional bettingrnyata, seteProfessProfessProfessional bettingional bettingional bettinglah mengulik data-data di sana-sini, Jeepney bukan sekadar angkutan umum yang berada di jalanan Filipina. Ia hadir dan menjadi saksi perjalanan masyarakat Filipina hingga kini.

Masuk akal juga sih, karena penumpang duduk saling berhadapan dan beradu lutut. Ini sama dengan angkot di Jakarta sih.

Informasi mengenai Filipina ini aku dapatkan di www.wisatafilipina.com. Informasinya sangat beragam, mulai dari tempat wisata, hotel, kuliner, diving, ESL, pilgrimage, sampai muslim-friendly, semuanya ada di sini. Selain isinya lengkap dan terpercaya, website milik PDOT Indonesia ini juga dilengkapi panduan wisata serta berbagai fitur keren dan seru yang membuatku semakin tertarik untuk menjelajah Filipina. Ditambah lagi, ada berbagai kuis berhadiah menarik yang bisa aku ikuti. Tentunya ini sangat mengobati kerinduanku untuk bisa liburan ke Filipina. It’s More Fun in the Philippines! Mabuhay Filipina! 

Nah, kalau yang ini pasti mirip dengan angkot di Jakarta. Lantaran tak memiliki tempat pemberhentian khusus, pengemudi Jeepney bisa sesuka hati menaikkan dan menurunkan penumpang di mana pun. Bahkan kadang “ngetem” seenaknya di pinggir jalan, yang kadang menjadi biang keladi kemacetan.

Penampilan Jeepney selalu menarik. Sang pemilik memang mendesain Jeepney semenarik mungkin agar banyak penumpang tertarik. Tampilan bagian luarnya penuh warna dengan hiasan motif atau kata-kata yang menarik.

Masuk akal sih kalau orang Filipina menyebut Jeepney sebagai “Si Raja Jalanan”. Meski terlihat klasik dan tak muda, laju Jeepney tak bisa dianggap remeh. Walaupun body-nya panjang, Jeepney bisa dengan lincah menyelip sana-sini, bahkan di tengah kemacetan jalan di Manila.

So, Mengenang Jeepney berarti merindukan Filipina. Wajahnya, baunya, dan sensasinya meliuk-liuk di jalanan Manila, akan kukenang sepanjang masa. Dan tentu akan selalu kurindukan.

Bagian depan Jeepney terdiri dari kursi sopir di sebelah kiri dan satu penumpang di sebelah kanan. Ini yang membedakan dengan di angkot di Jakarta. Jeepney memiliki setir di sebelah kiri, bukan di kanan.

Tarif Jeepney tak terlalu mahal. Setiap empat kilometer, penumpang dikenakan tarif 8 Peso atau setara Rp 2.000. Tapi bila melebihi empat kilometer, setiap kilometer akan dikenakan tambahan tarif 2 Peso. Murah kan!

Bila dilihat dari kap depan, Jeepney berbentuk seperti layaknya mobil jeep atau hartdop klasik. Jeepney memang kendaraan jip buatan pabrikan Jeep. Saat itu, ia menjadi kendaraan operasional tentara Amerika Serikat.

Meskipun sudah berlalu 12 tahun silam, aku masih mengenalinya. Kenangan bersamanya di Manila sungguh membekas. Ingin rasanya terbang lagi ke Manila, dan merasakan sensasi Perang Dunia II bersama si dia.

Mungkin hal unik ini hanya bisa ditemui di Jeepney. Hal itu adalah cara penumpang menghentikan Jeepney. Penumpang tinggal menarik seutas tali yang melintang di bagian atas, maka bel yang ada di dashboard akan berbunyi. Itulah penanda bagi supir Jeepney untuk berhenti menurunkan penumpang.

Nah, di bagian paling belakang terdapat pintu masuk dan keluar. Sekilas, Jeepney memang mirip dengan oplet dalam serial dan film Si Doel.

Namun, pada akhir Perang Dunia II, ribuan jip ini ditinggalkan di Filipina. Setelah kepergian tentara Amerika Serikat, kendaraan bermesin tangguh ini dimodifikasi menjadi moda angkutan publik.

Pertama kali menjejakkan kaki di Manila, mataku langsung tertarik dengannya yang menjejali setiap sudut jalanan ibu kota Filipina. Orang Filipina menyebutnya Jeepney. Dialah angkutan umum di Filipina. Tak hanya di Manila, Jeepney juga menjadi angkutan umum di kota-kota lain di Filipina.

So, kalau kamu naik Jeepney jangan coba-coba berpegangan di utas tali itu ya! Karena sekali tarik saja, pasti sang supir akan menghentikan laju Jeepney.

Tak jarang pula, mungkin karena kejar setoran, para supir Jeepney saling kebut-kebutan di jalanan. Kalau sudah begini, para penumpang akan disuguhi drama “Perang Dunia”. Seru bisa ngebut di jalanan, tapi juga deg-degan khawatir terjadi kecelakaan. Hampir mirip dengan supir angkot di Jakarta ya!

Masih di bagian depan, dashboard Jeepney biasanya dihiasi dengan aneka ornamen warna-warni. Kaca bagian depan juga ditempeli beragam stiker, kecuali di bagian supir.

Di bagian tengah hingga belakang terdiri dari dua kursi memanjang di kiri dan kanan. Jadi, penumpang akan duduk saling berhadapan. Di sepanjang sisi kiri dan kanan terdapat jendela tanpa kaca yang memudahkan udara masuk ke dalam Jeepney.  Di bagian luar, selain didesain berwarna-warni, terdapat pula rute yang dilaluinya. Tapi jika masih bingung, tanya saja langsung dengan sang supir yang rata-rata fasih berbahasa Inggris.

Warna yang kerap digunakan seperti merah, kuning, hijau, dan biru. Tapi ada pula yang membiarkan seluruh bodi kendaraan tanpa warna, sehingga terlihat warna perak.

Aku masih mengingat wajahnya. Meski nampak sedikit garang, tapi tampilannya yang berwarna-warni membuat dia terlihat ceria. Apalagi bila sedang meliuk-liuk di jalanan Manila, Filipina. Baunya pun aku mengenali. Di pagi hari, baunya akan sewangi parfum para penumpangnya yang hendak berangkat kerja. Tapi bila siang, apalagi sore, baunya mulai tak sedap. Campuran keringat dan debu jalanan.

Memang tak jelas asal muasal kata Jeepney. Tapi penduduk lokal mengartikan Jeepney sebagai “duduk beradu lutut di dalam jip”. Lantaran begini. Jeepney terdiri dari dua kata, yaitu “jeep” dan “ney”. Kalau Jeep sudah jelas mengartikan kendaraan. Nah, “ney” diartikan lutut atau “knee” dalam bahasa Inggris.